Perguruan Silek Harimau Minangkabau Awas…Hitungan Detik, Menerkam

Sunday, June 2nd, 2013 - Gelanggang

Silek adalah bahasa MPERGURUAN SILEK HARIMAU MINANGKABAU3i­nang yang artinya silat. Jurus-jurus da­sarnya kebanyakan ber­ben­tuk gerak tubuh yang me­ren­dah. Mirip gerakan ma­can yang sedang mengincar ma­ngsa. Begitu ada peluang, langsung me­ner­kam lawan.

Silek di Minangkabau mem­punyai dua tujuan yaitu ilmu bela diri menghadapi se­rangan musuh dan sebagai per­tahanan negeri. Hal ini di­da­sari keadaan Minang­kabau di zaman penjajahan, sebagai daerah subur penghasil rem­pah-rempah telah meng­undang kedatangan pihak lain untuk menguasainya.

Saat masa damai, beladiri ini kemudian diarahkan agar te­tap lestari dalam bentuk seni tarian. Juga, penyaluran energi silat yang cenderung pa­nas dan keras agar men­jadi lembut dan tenang.

Orang Mingkabau menyebut silek seba­gai panjago diri dan pa­rik paga dalam na­gari. Silek tidak saja sebagai alat untuk bela diri tetapi juga mengil­hami gerakan dasar ber­ba­gai tarian dan randai (baca: dra­ma Mi­nang­ka­bau).

Ran­dai me­ma­­du­kan alat mu­sik, teater tra­disio­nal, dan ge­rakan silat tra­di­sional Minang­ka­bau untuk menghibur masyarakat dan biasa­nya diadakan saat pesta rakyat atau hari raya Idul Fitri.

Randai awalnya adalah me­dia untuk menyampaikan ce­rita-cerita rakyat, dan ku­rang tepat jika Randai disebut sebagai teater tradisi Minang­kabau, walaupun dalam per­kem­bangannya Randai me­ng­a­dopsi gaya ber­­cerita atau dia­log teater atau san­di­wara.

Silek Ha­ri­mau Minangk­a­bau me­miliki se­deretan ge­ra­kan lincah se­perti menendang, me­mu­kul, mengunci, me­nahan, bertarung di tanah, dan menggunakan senjata. La­ngkah dalam permainan Si­lek Minangkabau mirip lang­kah berjalan dan posisinya lebih sering merendah di­kom­binasikan gerakan ang­gun namun kuat.

Mid Djamal dalam bukunya tahun 1986 menyebutkan pen­diri Silek adalah Datuak Suri Dirajodi Pariangan, Pa­dang Panjang sekitar tahun 1119.  Ia dibantu beberapa re­kannya yang datang dari luar negeri, yaitu Kambiang Utan (diduga dari Kamboja), Hari­mau Champo (diduga dari Champa), Kuciang Siam (di­du­ga dari Siam atau Thai­land), dan Anjiang Mualim (Diduga dari Persia).

Gerakan silek me­nyerupai teknik dan filosofi ha­rimau ketika menyerang ma­ngsanya. Salah satu ciri­nya dapat dilihat melalui tek­nik tangan terbuka yang meniru cakar harimau.

Nama Minangkabau sen­diri berasal dari dua kata, mi­nang dan kabau. Kata ini mempresentasikan harga diri dan kelompok etnis matrilineal adat dataran tinggi di Suma­tera Barat. Sebagai kelompok etnis matrilineal terbesar di du­nia, anak lelaki masyarakat Mi­nangkabau belajar bagai­ma­na hidup di luar kampung hala­man saat usianya cukup dewasa.

Hal ini dikenal sebagai tra­disi merantau yang bertujuan mencari kehidupan lebih baik sekaligus mendapatkan pe­nge­tahuan dan pengalaman. Mas­yarakat Minangkabau me­megang nilai penting ba­gai­mana cara melindungi diri dan tanah kelahiran mereka melalui ilmu bela diri ini.

Nama Minangkabau juga dikaitkan dengan suatu le­genda khas Minang. Konon pa­da suatu masa ada kera­jaan asing (diduga Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan.

Untuk mencegah pertem­puran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing ter­se­but menyetujui dan menye­dia­kan seekor kerbau yang be­sar dan agresif sedangkan mas­yarakat setempat men­ye­diakan seekor anak kerbau yang lapar yang dipasang pisau pada tanduknya. (zal)